Doktrin VOC;”Pisahkan Agama dan Politik…”

Doktrin VOC;”Pisahkan Agama dan Politik…”
Dia fasih berbahasa Arab dan pernah mukim di makkah selama 7 bulan, juga fasih berbahasa aceh, melayu dan jawa. Dia hafal al qur’an, dia faham hukum ISLAM, bergaul dengan mufti dan ulama islam di makkah dan indonesia. Di indonesia pada masa itu dikenal sebagai Haji Belanda, Syaikhul Islam tanah Jawi dan Mufti Abdul Ghaffar (mufti adalah pemberi fatwa).
Sempat menikah dengan perempuan indonesia anak ulama ciamis dan mempunyai beberapa orang anak. juga sempat menikahi anak wakil penghulu bandung. Bermodal kameranya, ia berhasil mengambil foto kegiatan sebelum ibadah haji yang disebut sebagai ritual kaum fanatik, dan foto jamaah haji asal indonesia pada masa itu. Ia sendiri tak sempat ber haji karena kembali ke belanda saat waktunya haji.
Dengan bermodal ilmu islamnya yang dahsyat ia ditugaskan oleh pemerintah hindia belanda untuk melakukan “De islamisasi” di indonesia.
Sesuai dengan tugasnya, ia merumuskan kebijakan pemerintah Hindia Belanda dalam menangani masalah Islam. Ia membedakan Islam dalam arti “ibadah” dengan Islam sebagai “kekuatan sosial politik”.
(Sekulerisme…….inget siapa ya?).
Ia membagi masalah Islam atas tiga kategori.
1. Semua masalah ritual keagamaan atau aspek ibadah, rakyat Indonesia harus dibiarkan bebas menjalankannya. Ia menyatakan bahwa pemerintah Belanda yang ”kafir” masih dapat memerintah Indonesia sejauh mereka dapat memberikan perlakuan yang adil dan sama-rasa sama-rata, bebas dari ancaman.
2. Lembaga sosial Islam atau aspek muamalat, seperti perkawinan, warisan, wakaf, dan hubungan sosial lain, pemerintah harus berupaya mempertahankan dan menghormati keberadaannya.
3. Dalam masalah politik, tidak mentolerir kegiatan apa pun yang dilakukan kaum Muslim yang dapat menyebarkan seruan Pan-Islamisme atau menyebabkan perlawanan politik atau bersenjata menentang pemerintah kolonial Belanda. Dalam hal ini, ia menekankan pentingnya politik asosiasi kaum Muslim dengan peradaban Barat (westernisasi).
Atas sarannya, aceh berhasil ditaklukkan belanda, Dari pengamatannya selama 7 bulan ia menyimpulkan kota Mekah adalah jantung kehidupan agama kepulauan Nusantara. Bila diperhatikan, tokoh pergerakan di indonesia akan tambah militan setelah pulang ibadah haji.
_*Pada akhirnya belanda memaksa mencantumkan gelar HAJI kepada siapa saja yang pulang berhaji. Dan meng “karantina” sebelum dan sesudah ibadah haji, pada masa itu di pulau onrust kepulauan seribu.*_
Ia adalah Christiaan Snouck Hurgronje (lahir di Tholen, Oosterhout, 8 Februari 1857 – meninggal di Leiden, 26 Juni 1936 pada umur 79 tahun) adalah seorang sarjana Belanda budaya Oriental dan bahasa serta Penasehat Urusan Pribumi untuk pemerintah kolonial Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Lahir di Oosterhout pada tahun 1857, ia menjadi mahasiswa teologi di Universitas Leiden pada tahun 1874. Ia menerima gelar doktor di Leiden pada tahun 1880 dengan disertasinya ‘Het Mekkaansche feest’ (“Perayaan Mekah”). Ia menjadi profesor di Sekolah Pegawai Kolonial Sipil Leiden pada 1881.
Yang mirip-mirip mas snouck ini sekarang tambah banyak, mungkin dialah bapaknya sekularisme dan liberalisme di indonesia. Dia sadar betul kalau ummat islam indonesia ber islam paripurna (Kaffah) akan menjadi kekuatan yang sangat sulit dikalahkan. Dan  hipotesis nya masih tetap berlaku hingga sekarang, kalau ingin mengalahkan ummat islam, gembosi dengan sekularisme dan liberalisme.
“According to Snouck the fundamental problem with Islam was the fact that Muslims believed in the need for Unity of State, with a Khalifah governing over all of them according to Sharia law. In a letter to Goldziher in 1886, one year after his journey to Mecca, Snouck said: “… I never had any objections to the religious elements of this institute [Islam]. Only its political influence is, in my opinion, deplorable. And as a Dutchmen especially I feel a strong need to warn against this.”
Snouck himself confessed that his conversion to Islam was not sincere, but only a step he deemed necessary to achieve his goal of travelling to Mecca. In a letter to his friend Goldziher, written on the day he converted, he said: “I do not want to keep hidden from you that it is possible, or even quite possible, that I will travel to Mecca […]. Of course, if one does not pretend to be Muslim [literally: does Izhar al Islam], this is not possible.”
INI JURUS LAMA.BRAY
#ilmuTakMejaminDatangnyaHidayah
#BelajarMenulisDenganSanad
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s