HADIAH TERBAIK UNTUK ANAK

*HADIAH TERBAIK UNTUK ANAK* **

*Oleh : Dr. Jasim Muhammad Al-Muthawwa’ (Pakar Parenting dari Kuwait)*

Saya bertanya pada orang yang hadir sekeliling saya tentang hadiah terbaik yang dipersembahkan untuk anak-anak. Mereka berbeda pandangan.

Orang pertama mengatakan: “Kasih mereka uang agar bisa menggunakan uang itu”. Orang kedua: “Kasih mereka kejutan dengan menaruh hadiah kecil dalam kaleng besar”. Orang ketiga: “Bawa mereka ke Mall, katakan apa yang mereka ingin beli adalah hadiah untuk kalian”.

Ide-ide mulai bermunculan dari setiap tempat seputar jenis hadiah, bentuknya, dan bagaimana cara memberikannya.

Kemudian saya menatap ke yang hadir dan berkata: “Tetapi hadiah yang saya maksud berbeda dengan yang kalian bicarakan”. Lalu mereka menatap saya dengan tatapan aneh, segera saya katakan: “Saya akan jawab setelah menuturkan kisah nyata ini”.

Seorang ayah berniat keluar dari rumahnya, salah seorang anaknya berdiri mencegat di dekat pintu, umurnya masih 7 tahun berkata kepada ayahnya: “Ayah mau pergi kemana?” Si Ayah menjawab dengan emosi: “Ini bukan urusanmu”. Lalu si ayah mendorong anaknya dengan kuat dan keluar.

Saat naik mobil si ayah merasa menyesal lalu turun dari mobilnya masuk rumah dan mendapati anaknya menangis di atas kasur dalam kamarnya, lalu mendekati si anak dan meminta maaf. Anaknya bertanya: “Ayah, berapa harga waktumu untuk bekerja?”. Si ayah menjawab: “15 dinar”. Kemudian anak tersebut segera membuka tasnya mengeluarkan uang 15 dinar dan memberinya kepada ayahnya sambil berkata: “Saya ingin membeli waktumu yah, agar ayah pulang lebih awal dan bisa makan malam bersama-sama, karena ayah setiap hari tidak pernah makan malam bersama kami”.

Kemudian si ayah _shok_ mendengar permintaan si anak, lalu si ayah tersebut meneteskan air mata dan memeluk anaknya. “Mulai sekarang saya akan pulang lebih awal insya Allah agar kita bisa makan bersama”. Kemudian si ayah tadi berangkat sambil memikirkan keluarganya di tengah perjalanan.

Setelah saya menceritakan kisah ini. Semua yang hadir menoleh dan menatap saya, kemudian saya katakan: “Waktu adalah hadiah termahal yang kita persembahkan untuk anak-anak kita. Kita sering meremehkan dan tidak memikirkannya. Setiap detik yang kita habiskan bersama anak-anak, mereka merasakan kenyamanan, keamanan, dan keteduhan serta ketenangan. Setiap kali anak-anak mencium bau anda saat anda bersama mereka walaupun anda tidak melakukan sesuatu, mereka akan merasakan ada energi, kepercayaan, ketenangan, dan cinta”.

Di kesempatan ini perlu saya bercerita, salah seorang teman berkata kepadaku bahwa ia pulang lebih awal dari kantornya agar bisa berkumpul bersama anak-anaknya. Ia memiliki 4 anak. Tatkala masuk rumah, ia menyaksikan anak-anaknya asyik bermain satu sama lainnya. Lalu ia duduk didekat mereka sambil membaca buku, setelah dua jam berlalu ia merasa anak-anaknya tidak membutuhkan kehadirannya. Lalu ia menuju pintu hendak keluar, saat ia sedang memegang gagang pintu, tiba-tiba anak perempuannya yang masih kecil usia 5 tahun segera berteriak: “Ayah mau kemana?”
Ia menjawab: “Ayah mau keluar menyelesaikan pekerjaan ayah”. “Duduk bersama kami yah!” kata si anak. Ia menjawab: “Bukannya ayah tadi telah duduk bersama kalian dan kalian tidak ada yang mau ngobrol sama ayah”.

Si anak perempuan memandang ayahnya dengan pandangan memelas, lalu berkata: “Yah, ketika kami bermain dan ayah duduk bersama kami, kita bisa melihat ayah dari waktu ke waktu, kami sudah merasa senang dan bahagia”. Lalu si ayah tersadar dari kata-kata anak perempuannya tersebut, kemudian balik lagi kedalam rumahnya, duduk di dekat anak-anaknya yang sedang bermain.

Si ayah ini berkata kepadaku: “Sungguh anak perempuan saya telah mengungkapkan perasaan batinnya dan saya tidak mengetahuinya kalau tidak ia ungkapkan”.

Betapa banyak anak hari ini menyembunyikan perasaannya pada orang tuanya, lalu anak-anak mengikat cintanya dengan pemberian atau hadiah. Jika kita khususkan waktu untuk mereka, maka mereka akan paham dari waktu yang kita habiskan bersama mereka bahwa kita mencintai mereka. Seperti ini mereka berfikir.

Waktu sama dengan cinta. Waktu adalah investasi masa depan.

Nabi Yusuf _alaihissalaam_ sukses di masa mudanya, dakwahnya, sukses mengatur negara, selamat dari fitnah wanita disebabkan waktu yang diluangkan ayahnya Ya’qub _alaihissalam_ untuk berdialog dan berkomunikasi dengannya.

Nabi Ibrahim _alaihissalaam_ berdialog dengan anaknya  Ismail ketika diperintah menyembelih, meminta bantuan dalam membangun Ka’bah. Bukankah itu waktu yang di habiskan seorang ayah bersama anaknya. Hasilnya anak menjadi Nabi setelahnya. Cerita-cerita seperti ini banyak.

Hari ini kita hidup di era krisis pemasrahan dalam pendidikan. Anak-anak dibiarkan bersama pembantu atau di depan layar TV. Kemudian kita berharap mereka menjadi anak sholeh, istiqomah, istimewa dan kreatif. Kita tidak memberikan sebagian waktu kita kecuali hanya waktu sisa. Kita seperti orang yang lari-lari di belakang fatamorgana dan berharap bisa minum air darinya.

Berilah sebagian waktu anda untuk anak-anak. Berkomunikasilah dengan mereka melalui pandangan saat bertemu, melalui tubuh saat duduk, melalui obrolan saat berdialog, melalui perasaan saat mengungkapkan, melalui emosi saat genting, melalui agama dalam setiap kehidupan mereka. Kelak anak anda menjadi seperti yang anda harapkan.

_Di terjemahkan dari artikel berbahasa Arab_
*(هذه أفضل هدية تقدمها لأبنائك)*
http://www.alyaum.com/article/3057108

** Diterjemahkan oleh:
Achmad Fadhail Husni, Lc.
Pusat Peradaban Islam
Jl. Gayungsari I/89 Surabaya.
Telp. 031-8299312
http://www.pusatperadabanislam.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s