MEMAKNAI TOLERANSI

MEMAKNAI TOLERANSI
Ir. Abdulkadir Baraja

Dalam sebuah negara yang memiliki penduduk muslim minoritas, ide sekularisme ramai didengungkan. Hal ini dilakukan demi menghindari trauma abad kegelapan kembali datang, agama terlalu mengekang kehidupan, setiap yang hidup di dalamnya tidak merasa nyaman. Lain halnya jika Islam menjadi mayoritas di sebuah negara. Ide yang didengungkan bukanlah sekularisme, namun toleransi antar umat beragama agar eksistensi minoritas tetap terjaga.

Toleransi pada dasarnya merupakan bahasa inggris yang berarti menunjukkan sebuah sikap menerima terhadap eksistensi dari perilaku atau ideologi yang tidak disepakati. Atau dengan kata lain kemauan untuk memahami sebuah kebiasaan atau kepercayaan yang berbeda. Atas dasar toleransi ini antara satu agama dengan agama lain diharapkan menjadi harmoni.

Virus toleransi kemudian menyebar, tidak hanya menghargai namun justru yang dipahami sebagai toleransi adalah ikut mengimani. Ikut merayakan idul fitri, ikut membagi-bagi untuk berbuka pada bulan puasa, dan lain sebagainya. Ini wujud toleransi. Umat muslim kemudian terinveksi, mengikuti perayaan natal, mengikuti misa bersama umat kristiani, bahkan teranyar berbuka puasa di gereja bersama umat kristiani sebagai wujud dari toleransi.

Ini berlebihan. Bukan lagi toleransi yang diambil dari makna dasar saling menghormati, namun ini lebih kepada pertukaran agama dimana yang satu sudi untuk melakukan ibadah umat lain. Muslim seolah terinspirasi dengan wujud tersebut dan harus mengikuti agar dikatakan toleran. Kalau demikian, kenapa tidak sekalian misa di masjid dan sholat jum’at di gereja?

Bagi non muslim melakukan peribadatan agama lain seperti Islam mungkin tidak masalah, harapannya muslim juga melakukan ibadah mereka. Dengan cara yang seperti ini aqidah akan kabur, identitas juga luntur, pada akhirnya antara Islam dan agama lain menjadi bias, iman hanya tinggal di dalam Qur’an dan tidak diterapkan.

Dalam islam orang seperti ini disebut dengan munafik, orang yang selalu berpura-pura mengaku beragama Islam namun sebenarnya hatinya tidak mengakuinya. Atau dengan kata lain apa yang dikerjakan tidak sesuai dengan isi hatinya. Islam tidak menghendaki adanya tipe orang seperti ini.

Empat belas abad yang lalu tawaran ini sudah pernah diberikan kepada nabi Muhammad SAW dari sekelompok kaum Quraisy, “Ya Muhammad! Mari kita berdamai. Mari kita menyembah apa yang engkau sembah, tetapi engkau pun hendaknya bersedia pula menyembah yang kami sembah…”

Kemudian turunlah surat al Kafirun ayat dua, “Katakanlah, hai orang-orang kafir! ‘Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah’”. Artinya pertukaran tersebut tidak bisa terjadi.

Jawaban ini memiliki dasar pemikiran matang. Tuhan antara agama tidaklah sama, oleh sebab itu cara menyembahnya pun berbeda. Tuhan umat Islam menghendaki agar sholat sebagai wujud ibadah, Tuhan agama lain menghendaki cara lain bagi pemeluknya dalam menyembah. Sekiranya umat kristiani sholat, maka tidak akan diterima oleh Tuhan agama tersebut. Oleh sebab itu tidaklah mungkin bisa ditukar.

Maka penekanan selanjutnya dalam Islam adalah membiarkan setiap orang untuk mengimani apa yang diyakini, “Untukmu agamamu, untukku agamaku” (QS.109:6). Membiarkan mereka menjalani ibadahnya tanpa mengganggu adalah cara terbaik bagi Islam dalam menghormati keyakinan orang lain. Umat beragama lain nyaman melaksanakan ibadahnya, muslim juga demikian.

Jangan takut umat Islam tidak toleran, seperti memaksa orang lain untuk masuk dalam Islam. Pada awal berkembangnya Islam, suku-suku di jazirah Arab masuk Islam secara sukarela, karena kagum dengan argumentasi yang ada para pribadi Nabi SAW.

Pada periode Umar bin Khattab, umat Islam menguasai Yerussalem tanpa peperangan. Umat Islam justru menjadi penengah dalam pertikaian yang berlarut-larut antara sekte-sekte Kristen di Kanisah al-Qiyamah. Faktanya ketika mayoritas adalah muslim, non muslim merasa nyaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s