“Bukan Pemimpin Umat dan Bukan Pula Pemimpin Bangsa”

Seruan Buya Dari Ranah Minangkabaw
———————
Buya Gusrizal Gazahar

19 Juli pukul 20:34 ·

“Bukan Pemimpin Umat dan Bukan Pula Pemimpin Bangsa”

(Pesan dari Ranah Minang Untuk Penguasa Negeri)

Toleransi yang tuan-tuan minta, telah diberikan oleh umat Islam dalam kurun waktu yang begitu lama.

Tak pernah terhambat lonceng gereja berbunyi di tengah mayoritas negeri ini.

Tak pernah terhalang hio terbakar walaupun dilakukan oleh mereka yang minoritas.

Kalau ada insiden yang terjadi di tengah mayoritas negeri ini, cobalah telusuri akar permasalahannya !

Ketika berbagai aturan diterabas dan mereka masuk ke jantung umat Islam dengan kepalsuan dan kebohongan untuk melakukan pemurtadan, reaksi umat yang tersinggung tak pernah melampaui batas melainkan setelah didiamkan tanpa mendapatkan keadilan.

Para penganut ajaran sesat SLIPS dan lainnnya bisa saja melemparkan tuduhan berbungkus kalimat “berkaca diri” kepada umat Islam.

Tanpa peduli fakta di lapangan, mereka menyalahkan mayoritas sesuai “tradisi nusantara mereka” selama ini.

Namun kami tak akan bergeming dari prinsip karena mereka adalah agen-agen yang melacurkan diri demi kenikmatan duniawi.

Dengan demikian, saya mengajak pemimpin negeri ini untuk “berfikir waras” sebelum tiba masanya kami harus bicara menggerakkan setiap yang diam menjadi gelombang yang tak akan terhadang batu karang.

Bila tuan-tuan tetap dalam “timbangan tak berukuran” selama ini maka kami harus mengatakan panggilan “jihad” yang selama ini tuan-tuan label dengan terorisme.

Cap dan label itu tak akan lagi kami pedulikan demi untuk menjaga kehormatan Islam dan Umat Islam.

Berlaku adillah kalau tuan-tuan pemimpin !

Urusan speaker bila diapungkan malah akan semakin membuat mata kami terbuka bahwa tuan-tuan bukanlah pemimpin bangsa apalagi pemimpin umat.

Kegiatan ibadah yang telah ditetapkan sebagai hari libur nasional, bisa tidak diterima penyelenggaraannya dengan menggunakan alat pengeras suara ?

Toleransi seperti apa yang tuan-tuan minta selama ini dari kami ?

Apakah kami harus menolak dan menghalangi pawai di hari imlek yang mengganggu aktifitas kami dengan terganggunya lalu lintas padahal mereka hanyalah minoritas di tengah kami ?

Apakah kami harus melarang pula suara lonceng gereja berbunyi karena tidak membuat nyaman pendengaran kami kaum muslimin ?

Kalau pun tuan-tuan tidak merasa pemimpin umat, setidaknya bila masih merasa pemimpin bangsa maka berhentilah menerapkan toleransi bagaikan “pisau bermata sebelah” itu…!

Wahai penguasa negeri !

Jangan kalian tutupi persoalan pembakaran masjid di hari kemenangan kami !

Kalau tuan-tuan para penguasa menyelimutinya dengan kebohongan, berarti tuan-tuan bagaikan meninggalkan api dalam sekam yang siap menyala walaupun tertiup angin lalu….

Wahai para pejabat yang seagama dengan perusak suasana kebahagian kami di hari fithri !

Jagalah mulut kalian !

Toleransi kami yang memberi peluang kalian menduduki posisi itu.

Janganlah kalian lukai kami dengan pembelaan membabi buta yang hanya akan menyiramkan asam di atas luka kami.

Terakhir
wahai penguasa negeri !

Penyerangan terhadap masjid kami, merupakan pernyataan permusuhan yang tak bisa kami terima.

Bila anda tidak merasa menjadi bagian dari kami, setidaknya selagi masih merasa bagian dari bangsa ini maka ingatlah !

Umat Islam bila mengalami kondisi penzhaliman seperti ini, akan memiliki alasan yang kuat untuk melakukan tindakan yang berimbang.

Nyawa berbalas nyawa dan harta berbalas harta.

Masalah ini telah sampai ke telinga tuan-tuan dan telah terbuka di hadapan khalayak ramai.

Dalam petuah orang tua kami, “alah basuluah matohari bagalanggang mato urang banyak” dan umat telah mencoba mengetuk hati tuan-tuan.

Sekarang tak ada lagi pilihan bagi tuan-tuan bila tuan-tuan merasa pemimpin umat…

Ingatlah !
Masalah ini jauh lebih berat dari perkara hudud antara kaum muslimin.

Rasulullah  صلى الله عليه و سلم bila berhadapan dengan masalah hudud yang telah diangkat kepada beliau, beliau bersikap seperti dalam hadits berikut ini :

عن عمرو بن شعيب ، عن أبيه ، عن جده ، أن رسول الله – صلى الله عليه وآله وسلم – قال : تعافوا الحدود بينكم فما بلغني من حد فقد وجب ” (رواه الحاكم)”

Dari ‘Amru Ibn Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: saling memaafkanlah perkara hudud di antara kalian ! Namun apa saja (perkara hudud) yang sampai kepada ku, sungguh ia telah wajib (ditegakkan hukumnya)”. (HR. Hakim)…

Ambillah beliau sebagai tauladan bila tuan-tuan merasa pemimpin umat…

Kalau tuan-tuan tidak merasa demikian, setidaknya bila merasa pemimpin bangsa yang masih khawatir negeri ini berkeping-keping, tangkap perusuh itu dan hukum sebagai perusuh yang selama ini sering tuan-tuan alamatkan kepada umat Islam.

Bila tuan-tuan tidak juga merasa demikian, berarti tuan-tuan bukanlah pemimpin umat dan bukan pula pemimpin bangsa…

Jika demikian keadaannya maka k٨ami akan memimpin umat ini untuk membela marwah dan harga diri kami umat Islam yang merupakan tujuan mulia dari diturunkannya Syari’at…
Copas dari group sebelah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s