Fokuslah Kepada Al Haq‎

Fokuslah Kepada Al Haq‎
Sebuah Renungan
Tahun 90, usia saya masih 21, saya pernah kuliah dakwah di Ma’had AlHikmah, saat itu pendekatan dakwah para aktifis nyaris lebih banyak kepada  pendekatan perlawanan konspirasi Yahudi, gerakan pemurtadan, ghozwulfikri dsbnya.

Belum lagi era Suharto ketika itu menutup mulut banyak aktifis dengan represif. Mengajipun harus sembunyi2. Suasananya terlihat tenang di permukaan namun bergejolak di bawah permukaan. Bagai api dalam sekam. Gairah muncul lebih banyak karena kemarahan bukan kecintaan.

Terbayang kah bila mulut dibungkam, sementara gairah Islam membuncah-buncah, rasanya ingin meledak tak terbendung lagi, padahal saat itu bahkan ada pembantaian yang sama seperti hari ini di Gaza, bahkan di Bosnia, Kashmir, Moro dstnya.

Di tengah gairah perlawanan itu, saya terkesan dan masih berkesan sampai hari ini, dengan pembahasan tafsir guru saya ust Hasib Hasan Lc ketika beliau membahas tafsir beberapa ayat awal Surat alBaqoroh. Kami rutin setiap pekan sekali membahas tafsir.

Ayatnya sederhana, sering kita dengar dan baca… namun maknanya ternyata mendalam

“…yukhodiunaLlah WA ladzina aamanu, wamaa yakhdauna ila anfusihim”

Mereka ingin menipu Allah dan orang-orang yang beriman, dan tidaklah tipuan itu menipu kami kecuali kembali kepada diri mereka”

Ustadzuna Hasib Hasan Lc, mengatakan bahwa dalam ayat itu, Allah dan Orang beriman hanya dipisahkan oleh huruf “wa”, ini menggambarkan betapa dekatnya hubungan keduanya.

Nah jika Allah dan orang beriman sangat dekat hubungannya, maka semua tipu daya siapapun akan berbalik ke diri mereka sendiri alias ga ngaruh!

Bertahun tahun kemudian, setelah Suharto lengser, Reformasi sudah berjalan 15 tahun lebih, ternyata kondisi ummat Islam masih sama saja. Musuh seolah semakin hebat, ummat semakin panik. Syiah yang sudah membagi-bagikan buku Khomeini dan videonya sejak tahun 80an, kini seolah muncul lagi bagai monster Godzilla yang lebih menakutkan, padahal bisa saja, bukan mereka yang membesar namun mungkin kitanya yang melemah.

Bertahun-tahun kemudian, saya kira ayat alBaqoroh di atas selalu relevan. Fokuslah dekat kepada Allah dalam semua aspeknya, jangan fokus pd musuhnya. Tipu daya musuh itu sungguh2 lemah.

Mengapa kita mudah panik, karena kita mungkin tidak dekat dengan Allah. Kebencian kita kepada makhluk mungkin menghalangi kedekatan kita kepada Allah

Waspada boleh, tetapi membesarkan musuh sampai keder, ya jangan, apalagi panik. Kekuasaan itu bukan di tangan rakyat dan bukan di tangan musuh, apalagi di tangan syiah tetapi di tangan Allah swt. Yakinlah. Ini yang mesti disadarkan dalam diri anak-anak kita, bukan seolah-olah malah membesar-besarkan musuh.

Jangan sampai kita sibuk membahas musuh, sementara pendidikan anak-anak kita diserahkan pada lembaga, pada orang lain, pada yayasan, dsbnya dengan alasan tidak bisa mendidik sendiri.

Mengapa Mizan terlihat hebat, ya karena sejak tahun 80an mungkin belum ada penerbit Islam yang bisa sebesar Mizan, salah siapa? Kita masih sibuk mengutuki sejak tahun 80an, mereka sudah membuat banyak film, salah siapa? Kita masih menghalangi anak-anak kita yang berbakat penulis, sutradara, seni teater dll, sementara kita kewalahan membendung film-film  yang kita anggap bukan produk Islam.

Saya hanya mengingatkan bahwa jika kebencian kita sampai menjadi obsesi dan masuk ke alam bawah sadar, ini akan terbawa ke rumah rumah kita, ke alam fikiran anak anak kita, ini lebih buruk dari Syiah itu sendiri. Itu menghambat tumbuhnya fitrah-fitrah yang baik. Buatlah anak2 kita mencintai Allah, RasulNya dan kebenaran, maka kebathilan akan lenyap.

Mari kita fokus merawat dan menumbuhkan fitrah anak anak kita. Agar anak2 kita “sangat dekat” dengan Allah. Kedekatan tidak diukur dari jumlah ilmu agama, namun dari kecintaan dan kesadaran.

Siapapun yang fitrahnya lurus, dia dekat kepada Islam dan pasti mampu membedakan alhaq dan albathil. Seberapa hebatnya sih taqiyah dibanding kekuatan nurani yang berangkat dari fitrah keimanan yg tumbuh karena keridhaan dan kecintaan?

Siapapun yang fitrahnya menyimpang maka dia menjauh dari Islam, walau terlihat banyak amalnya.

Mari sibukkan memperbaiki internal ummat, membangun pendidikan generasi yang sesuai fitrah, maka kekuasaan akan Allah berikan dengan sendirinya.

Mari sibuk membuat pacuan kebaikan sendiri (surpetisi), bukan pacuan dengan agama lain (kompetisi). Jika dekat kepada Allah, maka kekuasaan itu otomatis diberikan kepada kaum Mukminin.

Nasehat SunZhu, kemenangan itu adalah menghantam titik lemah musuh dengan titik kekuatan kita.
Maka lontarkanlah alHaq, sehingga alBathil sirna. Maka fokuslah pd alHaq.

Salam Pendidikan Peradaban 😊🙏

#Jumadiltsani isnot April
(‎Harry Santosa)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s