KETIKA MUSIBAH MENIMPA

Apabila musibah menimpa kita, maka kita harus segera mengambil sikap agar
beban menjadi ringan bahkan menjadi rahmat.

* Pertama, apabila ditimpa musibah hendaknya kita membaca ‘innaa
lillaahi wainnaa ilaihi raaji’uun’ (“Sessungguhnya kita milik Allah
dan kepadaNyalah kita akan dikembalikan” ). Allah Ta’ala berfirman,
“yaitu orang-orang yang jika ditimpa musibah mereka mengucapkan
“innaalillaahi wa-innaa ilaihi raaji’un”. Rasulullah bersabda,
“Tidaklah seorang hamba ditimpa musibah lalu beristirjaa’ niscaya
Allah Ta’ala akan memberi ganjaran pada musibahnya dan akan
menggantikannya dengan yang lebih baik darinya”. (HR.Muslim)

Ucapan istirjaa’ mengandung pengertian bahwa diri kita, keluarga dan
harta benda adalah milik Allah Ta’ala. Ketika kita lahir, kita tidak
memiliki apa-apa. Demikian pula sampai kita meninggal nanti kita
tidak akan membawa apa-apa. Semua itu akan kita tinggalkan dan kita
tidak akan membawa sesuatu, kecuali amal shalih kita. Karena itu,
persiapan diri adalah mutlak untuk menghadapi hari tersebut.

* Kedua, hendaknya kita yakin dengan takdir Allah Ta’ala baik dan
buruknya. Ini penting, karena keyakinan dengan rukun iman yang keenam
ini akan meringankan beban kita. Iman kepada takdir memberi kita
semacam ‘kekebalan dini’ dengan kesadaran sedalam-dalamnya bahwa
segala sesuatu yang telah, sedang dan akan terjadi itu telah tertulis
di lauh al-mahfuzh. Dengan demikian, apapun yang menimpa kita tetap
berada di dalam bingkai kesadaran, sehingga musibah akan terasa lebih
ringan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam do’anya
yang terkenal, “.anugrahkanlah pada kami keyakinan yang menjadikan
musibah terasa ringan.”. (HR. at-Tirmidzi dan al-Hakim).

Allah Ta’ala berfirman, artinya, “Tiada satu bencanapun yang menimpa
di muka bumi dan tidak pula pada dirimu kecuali telah tertulis pada
kitab sebelum kami menciptakannya. Sunggguh, yang demikian itu mudah
bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput
dari kamu dan agar kamu tidak terlalu gembira dengan apa yang
diberikan Allah padamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang
sombong dan membanggakan diri”. (QS. Al-Hadiid: 22-23)

Ketika ada hal-hal yang luput, mengalami penderitaan, menghadapi
kesulitan, kita tidak terlalu bersedih hati dan menjadikan kita
berprasangka buruk kepada Allah.

* Ketiga, hendaknya kita bersyukur karena musibah yang menimpa kita
tidaklah lebih besar dari yang menimpa orang lain. Begitu banyak orang
yang mendapatkan musibah jauh lebih mengenaskan daripada kita. Seberat
apapun musibah dunia yang menimpa kita, yakinlah masih ada lagi yang
lebih berat. Tidak sedikit orang yang sebenarnya terkena musibah tapi
dia tidak menyadarinya, yakni’ tertimpa musibah dalam agamanya. Yang
mengherankan adalah tidak sedikit orang terjatuh pada musibah agama
(musibah diniyah), namun ia sedikitpun tidak merasa sedih. Terjatuh
pada perzinahan, makan riba, membunuh jiwa yang tidak halal, pergi ke
dukun atau tukang ramal dan membenarkannya adalah di antara musibah
diniyah, bahkan yang terakhir bisa menggelincirkan pelakunya dari
Islam.. Itulah sebabnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
mengajarkan kita sebuah do’a agar kita tidak terjerumus musibah ini.
Dalam do’anya beliau bersabda, “Ya Allah jangan engkau jadikan musibah
kami dalam agama kami”. (HR. Tirmidzi dan Hakim)

* Keempat, hendaknya kita sedapat mungkin tidak berkeluh kesah,
menggerutu atas musibah yang melanda kita. Sebab itu semua tidak akan
mengembalikan apa yang telah hilang. Berkeluh kesah juga menunjukkan
seseorang tidak ridha dengan takdir Allah Ta’ala. Bagi mereka yang
menjaga shalatnya, menjaga kehormatannya, menunaikan zakat, beriman
kepada Allah Ta’ala dan Hari Kemudian, maka tidak akan berkeluh kesah.
Mengeluh kepada manusia juga tidak tidak memberi banyak manfaat,
karena bisa menodai kesabaran dan keridhaan. Para salafus shalih jika
mereka ditimpa musibah sekecil apapun, ia langsung mengeluhkannya
kepada Allah. Bahkan di antara mereka ada yang mengeluh kepada Allah
karena tali sendalnya putus. Kalau musibah mereka tergolong berat,
seperti kematian anak, orang tua, kerabat dan lain-lain mereka
berusaha menyembunyikannya dan tidak mengabarkannya kecuali untuk
urusan memandikan, menshalatkan, dan menguburkannya.

* Kelima, kita harus yakin bahwa apa yang menimpa jika kita sabar dan
ridha, maka Allah Ta’ala pasti memberikan gantinya. Allah Ta’ala akan
memberi kenikmatan, berkah, kelezatan, kebaikan yang berlipat ganda.
Bahkan musibah yang melanda akan menghapuskan dosa-dosa dan akan
menyucikan jiwa-jiwa kita. Allah Ta’ala berfirman, artinya, “Mereka
itulah yang akan mendapatkan shalawat dari Tuhannya, rahmat dan mereka
itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk” . (QS. al-Baqarah: 157).

Semoga kita menyikapi setiap bencana yang menimpa kita dengan baik dan
benar. Sabar dan ridho serta selalu bersyukur kepada Allah Ta’ala, insya
Allah kita akan mendapatkan kelezatan iman.

Oleh : Fariq bin Gazim Anuz
Sumber : Hikmah dibalik Musibah (Risalah untuk orang-orang yang tertimpa
musibah dan dirindung duka).

One thought on “KETIKA MUSIBAH MENIMPA

  1. Assalamu’alaikum wrwb,Hidup yg kita jalani hakikatnya adalah ujian dari Allah SWT baik itu diwaktu senang maupun susah.Semoga kita yg telah mengaku beriman lulus dlm mengarungi kehidupan didunia ini.Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s