Evaluasi Standar Zonasi Gempa

PADANG: Rabu pukul 17.16 WIB gempa berkekuatan 7,6 SR memorakporandakan Kota Padang dan Pariaman, Sumbar. Hingga kemarin tercatat telah menewaskan 603 orang dan angka yang paling besar terdapat di Kab. Padang Pariaman. Total korban tewas di wilayah itu hingga kini mencapai 276 orang. Diikuti oleh Kota Padang, korban tewas mencapai 231 orang.

Gempa yang meluluhlantakkan beberapa wilayah di Sumatra Barat selain menelan korban jiwa juga sempat membuat lumpuh fasilitas kota seperti listrik dan air serta berbagai aktivitas ekonomi.

Walau terlihat masih seadanya, kegiatan perekonomian mulai tampak. Sejumlah pembeli dan pedagang meramaikan pasar walau harus bersanding dengan bangunan hancur. Antrean panjang nasabah yang akan melakukan aktivitas perbankan juga mulai terlihat di sudut-sudut kota yang masih utuh.

Pasti butuh waktu untuk kembali normal seperti semula. Namun, kerja sama yang baik dari semua pihak akan sangat membantu meringankan duka yang tengah mengimpit ranah Minang.

Jadi, mari kita bersama memikul bebannya, bukan malah mencari untung lewat musibah yang datang.

Evaluasi Standar Zonasi Gempa

Pemerintah diminta mengevaluasi standar nasional zonasi risiko gempa di Indonesia yang akan menjadi panduan dalam menerapkan kebijakan izin bangunan dan manajemen bencana.

Wilayah cesar Bukit Barisan yang ada digugus Pulau Sumatra yang saat ini ditetapkan sebagai zona menengah (3-4) diusulkan naik menjadi zona kuat (5-6) karena karakter risiko yang menguat.

Hari Nugraha Nurjaman, Sekum Ikatan Ahli Pracetak dan Tegang Indonesia (IAPTI), mengatakan gempa 30 September di wilayah Sumbar menjadi dasar dari rekomendasi untuk menaikkan zonasi risiko gempa itu karena daya rusaknya ternyata jauh di atas ketentuan zonasinya.

“Dalam pedoman nasional untuk risiko gempa di Padang itu masuk zona menengah, tetapi gempa kemarin itu ternyata daya rusaknya masuk kategori zona kuat. Ini perlu disikapi dengan melakukan evaluasi zonasi wilayah gempa,” ungkapnya kepada Bisnis di Padang, kemarin.

Nurjaman merupakan tenaga ahli teknik sipil yang diterjunkan Kementerian Negara Perumahan Rakyat (Kemenpera) untuk meninjau dan melakukan penilaian terhadap dampak gempa pada bangunan di Sumbar.

Menurut dia, gempa dengan kekuatan 7,6 skala Richter yang melanda 11 daerah di Sumbar menimbulkan kerusakan parah secara sporadis.

Dalam hal ini, tuturnya, daerah dapat melakukan inisiatif untuk melakukan evaluasi di tingkat lokal tanpa perlu menunggu keluarnya ketetapan secara nasional.

“Saya menyarankan Sumatra Barat bisa memulainya dengan menaikkan zonasi gempanya untuk menjadi dasar bagi kebijakan perizinan untuk bangunan dan konstruksi di daerah tersebut.”

Sementara itu, Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi mengatakan kebijakan izin pembangunan gedung di Sumbar akan diperketat dengan menaikan pedoman risiko dan antisipasi gempa menjadi 8,5 skala Richter.

Menurut dia, semua gedung publik, seperti mal, hotel, dan perkantoran harus dibangun dengan kontruksi yang melakukan perhitungan aman terhadap bencana gempa 8,5 skala Richter.

“Ketentuan itu segera kami keluarkan bulan ini juga dan itu akan berlaku untuk pembangunan konstruksi yang akan dilakukan di wilayah Sumbar,” katanya secara terpisah kemarin.

Nurjaman mengungkapkan dari hasil pengamatan selama di Padang disimpulkan banyak gedung bertingkat di Padang yang dibangun dengan standar hanya setara dengan bangunan tinggal.

“Kalau standar antisipasi risiko izin bangunannya dinaikkan� masyarakat tidak boleh lagi membangun dengan cara seperti itu. Harus menggunakan teknik konstruksi yang memenuhi standar keselamatan yang lebih tinggi,” tuturnya.

Salah satu penyebab banyaknya korban gempa yang berjatuhan di Padang diketahui karena konsentrasi korban yang berada di sejumlah bangunan hotel dan mal yang ambruk.

Berdasarkan catatan ada 11 hotel berbintang satu hingga lima, dan� tiga mal besar� yang rusak parah akibat gempa di Padang.

Gempa susulan

Kemarin, Padang digoyang gempa lagi dengan kekuatan 4,3 skala Richter pada pukul 19.51. Belum diketahui kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa tadi malam.

Menurut Zulfikar, analis BMKG, guncangan tersebut masih terkait dengan gempa sebelumnya. Namun, tambahnya, gempa susulan itu tidak merusak.

Meski begitu, gempa tersebut akan memicu longsoran dan kerusakan bangunan yang lebih parah. Hinga hari kelima pascagempa di Sumbar, telah terjadi 609 gempa susulan dalam gempa yang kecil.

Terkait dengan gempa di Sumbar, permintaan akomodasi hotel di Padang pascagempa meningkat dengan banyaknya sukarelawan dan jurnalis baik dari dalam maupun luar negri.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Sumatra Barat, Maulana Yusran mengatakan sedikitnya 80 hotel bintang dan nonbintang rusak sehingga dia meminta hotel yang kerusakannya ringan bisa segera beroperasi.

“Hotel Best Western dan Pangeran Beach selamat dari gempa meski tidak luput dari kerusakan. Kami imbau hotel yang selamat bisa segera mengoperasikan hotelnya dan menyiapkan sumber daya manusia yang ada,” ujarnya melalui telepon kepada Bisnis.

Sebanyak lima hotel berbintang di Padang yakni Hotel Bumi Minang, Hotel Ambacang, Hotel Hayam Wuruk, Hotel Mariyani, serta Hotel Dipo rusak parah akibat gempa.

Hotel Ambacang mendapat perhatian luas dari pers karena sedikitnya 200 korban tewas dan terperangkap di hotel itu.

Sumber : Bisnis.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s