Teknologi Modern dan Penelitian Arkeologi


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}
Oleh
Djulianto Susantio

JAKARTA – Penggunaan sinar laser pada Stonehenge (nama bangunan purbakala di Inggris) menghasilkan penemuan dua benda berukiran yang semula tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Hal ini dianggap penemuan yang menakjubkan yang dapat membantu pekerjaan arkeologi.

Sebenarnya, pada 1950-an di sana juga pernah ditemukan benda ukiran yang mirip. Namun, waktu itu menurut para arkeolog, “Sangat sulit untuk dilihat karena telah terkorosi”.
Arkeolog Tom Goskar menyatakan bahwa pemindaian (scanning) laser telah membuka cakrawala baru untuk melihat Stonehenge. “Dengan menggunakan teknologi itu kita tidak hanya menemukan semakin banyak benda ukiran, tetapi melihat kontur dengan jelas dan membantu orang-orang memahami bangunan purbakala itu,” demikian Goskar.
Teknologi memang telah banyak membantu pekerjaan arkeologi sejak lama. Pekerjaan yang tadinya terasa sangat berat bahkan terkesan “tidak mungkin bisa dianalisis”, ternyata menjadi semakin ringan dengan digunakan atau ditemukannya teknologi modern.
Dulu, ketika arkeolog menemukan sisa-sisa makanan, hasil kajian yang diperoleh sangat sedikit. Namun dengan bantuan mikroskop, informasi yang diperoleh semakin banyak.
Misalnya penelitian di Skara Brae, Skotlandia, terhadap beberapa rumah batu zaman Neolitikum yang berasal dari masa 3.000 SM.
Di sana, bersama batu-batuan dan mangkuk-mangkuk cangkang, juga ditemukan sisa-sisa makanan.
Dari hasil analisis mikroskopik diketahui sisa-sisa makanan itu berupa susu dan produk biji-bijian. Jadi tidak hanya sekadar “sisa-sisa makanan”. Sisa-sisa tadi tentu menunjukkan susunan makanan orang-orang yang hidup pada saat itu.
Selain itu ditemukan zat pewarna merah (oker), yang diduga untuk melakukan aktivitas ritual (Arkeologi, Paul Devereux, 2003).
Dengan menghasilkan informasi yang lebih detail, arkeologi mampu lebih banyak menghasilkan penafsiran.
Penemuan teknik baru DNA (Deoxyribonucleic Acid), juga semakin mudah mengungkapkan pemecahan kasus-kasus arkeologi. Kalau pada awalnya pemeriksaan DNA hanya berhubungan dengan tindakan kriminal, namun lambat-laun penelitian-penelitian arkeologi sering menggunakan teknik baru ini.
DNA dipandang merupakan cetak biru kehidupan bagi semua makhluk dan kode rahasia instruksi khusus yang membuat setiap makhluk hidup berbeda satu sama lain. Penelitian DNA, seperti yang dilakukan di Cuddle Springs (Australia), pernah membuahkan hasil menakjubkan.
Penelitian itu difokuskan pada sebuah alat batu yang berusia 30.000 tahun.
Setelah dianalisis dengan mikroskop elektron, ternyata pada artefak tersebut ditemukan jejak darah dan rambut. Melalui analisis DNA kemudian diketahui bahwa jejak tersebut berasal dari seekor kanguru. Dari sanalah disimpulkan bahwa pada saat itu, orang-orang primitif sudah dapat berburu binatang-binatang besar.

Metallografik
Berbagai jenis logam yang ditemukan para arkeolog dalam ekskavasinya, tentulah sangat menguntungkan berbagai penelitian selanjutnya. Ini karena logam termasuk bahan yang dapat bertahan lama. Namun kendalanya, banyak jenis logam sudah aus termakan karat. Hal itulah yang menyulitkan para pakar arkeometalurgi (pengetahuan tentang logam kuno) untuk mengungkapkan segala informasi dari artefak tersebut.
Untunglah, kemudian berkembang pengujian metallografik dengan alat canggih. Teknik ini memakai zat kimia untuk mengupas bagian yang dipoles dari sebuah artefak logam guna mengetahui struktur logam di bawahnya. Daerah itu kemudian dipelajari menggunakan mikroskop.
Salah satu artefak yang pernah diuji secara demikian, sebagaimana tulis Arkeologi, adalah kapak perunggu yang dipakai untuk upacara, berasal dari Pulau Kreta di Yunani. Artefak itu dibuat sekitar tahun 3000 SM.
Tujuan pengujian adalah untuk mencari tahu metode yang dipakai untuk membuat artefak itu. Setelah dilakukan penelitian mendalam, ditafsirkan bahwa alat besi itu dipanaskan terlebih dulu di atas arang untuk mendapatkan ujung yang keras dan tajam.
Seiring dengan kemajuan teknologi, berkembang lagi teknik-teknik penelitian arkeologi. Berbagai temuan arkeologi di situs Nazca (Peru) banyak diteliti memakai teknik neutron aktif, dilakukan dalam rangka untuk mengetahui apakah benda-benda temuan seperti keramik dibuat oleh penduduk asli atau bukan. Berdasarkan analisis selanjutnya, ternyata dapat dijelaskan bahwa keramik tersebut dibuat dengan sejumlah cara yang berbeda dan tidak mungkin dibuat di Nazca.
Dengan demikian, analisis neutron aktif membantu para arkeolog mencari tahu tentang bahan pembuat sesuatu, cara membuatnya, dan asalnya. Suatu penemuan yang dipandang luar biasa dalam rangka memahami masa lampau.

Manual
Banyak penemuan arkeologi yang tergolong fantastis atau spektakuler terjadi di negara-negara dunia ketiga, seperti Mesir, Peru, Guatemala, Meksiko, India, dan Indonesia. Namun ironisnya, negara-negara tersebut tidak bisa berbuat banyak. Ini karena mereka belum memiliki teknologi (modern) untuk meneliti artefak-artefak purba tersebut. Yang justru berantusias menelitinya adalah negara-negara maju di Eropa dan AS.
Sejak lama bangsa Mesir, misalnya, dibuat terkagum-kagum oleh penelitian mumi yang dilakukan pakar-pakar Inggris. Baru-baru ini malah mumi Tutankhamun yang masih misterius, berhasil diungkapkan sebab-sebab kematiannya oleh British Museum bersama sejumlah pakar.
Senasib dengan itu adalah sisa-sisa kebudayaan Maya, Indian, dan Aztec di Amerika Selatan. Hampir seluruh artefak menjadi garapan serius secara besar-besaran oleh pakar-pakar AS.
Di Indonesia sendiri, penelitian arkeologi belum semaju di mancanegara, bahkan boleh dibilang masih bersifat manual. Temuan-temuan arkeologi di Indonesia padahal lebih beraneka ragam dibandingkan banyak negara lainnya. Dulu, kita pun pernah menjadi “bulan-bulanan” Belanda dalam penelitian arkeologi.
Kita memiliki lahan penelitian yang begitu luas dan beragam, mulai dari masa prasejarah dan masa Hindu-Buddha hingga masa Islam dan masa kolonial. Tetapi kita miskin anggaran, sehingga tidak mampu membeli peralatan yang modern untuk menunjang berbagai penelitian arkeologi di Tanah Air.

Penulis adalah arkeolog tinggal di Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s